Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Buku: ebook Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia
Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia
Part Kerajaan Bima
Buku: Iman dan Diplomasi, Serpihan Sejarah Kerajaan Bima
27/05/12
Henri Chambert-Loir, Massir Q. Abdullah, Suryadi, Oman Fathurahman, H. Siti Maryam Salahuddin, Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), kerja sama dengan École française d'Extrême-Orient (EFEO), dan Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Maret 2010, 222 hlm.
Satu lagi, kontribusi para filolog bagi dunia keilmuan dapat dinikmati. Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima, demikian judul buku karangan bersama Henri Chambert-Loir, Massir Q. Abdullah, Suryadi, Oman Fathurahman, dan H. Siti Maryam Salahuddin ini menyapa pembaca.
Dengan sampul unik berupa ilustrasi tanda tangan Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah, yang disalin dari naskah Perjanjian antara Kerajaan Bima dan Kompeni Belanda, 26 Mei 1792, buku ini menghadirkan tiga hasil telaah atas naskah-naskah yang berasal dari Kesultanan Bima, antara tahun 1775 sampai 1882. Para penulisnya: Henri Chambert-Loir, Massir Q. Abdullah, Suryadi, Oman Fathurahman, dan H. Siti Maryam Salahudin adalah mereka yang telah lama ‘bercengkrama' dengan dunia pernaskahan Nusantara.
Buku: Hukum Adat dan Undang-Undang Bandar Bima
24/05/12
Resensi Buku
Judul: Hukum Adat dan Undang-undang Bandar Bima
Penulis: Hj. Siti Maryam R. Salahuddin
Penerbit: Mataram, Lengge
Cetakan: Kedua, September 2004
Tebal: v + 200 halaman
Ukuran: 1,1 x 20 cm
Buku ini merupakan salah satu buku yang berusaha mengenalkan hukum "hadat" (adat) yang pernah berlaku di Kerajaan/Kesultanan Bima, Nusa Tenggara Barat. Buku ini merupakan upaya transliterasi salah satu kerabat kerajaan yang bernama Siti Maryam R Salahuddin. Beliau adalah cucu dari Sultan Abdul Khair II, Sultan terakhir Kesultanan Bima (1951-2001).
Upaya transliterasi sangat diperlukan karena naskah hukum "hadat " Kerajaan/Kesultanan Bima ini aslinya ditulis dengan aksara Arab Jawi, dengan bahasa Melayu yang sulit untuk dipahami oleh orang Bima sekarang bahkan oleh keturunan Kerajaan Bima sendiri. Transliterasi ini ditulis dengan menggunakan pendekatan yang sangat sederhana, yaitu keinginan untuk mengungkap isi dan makna dalam naskah hukum "hadat" ini. Transliterasi dilakukan hanya pada bebarapa naskah saja. Hal ini didasarkan pada kemampuan yang ada karena memang untuk mengkaji naskah hukum "hadat" ini diperlukan waktu yang panjang.
Buku: Perang Dena, Sejarah Perjuangan Mbojo
21/05/12
Perang Dena/Perang Sabil Tahun 1910
Sebab-Sebab Perang Dena
Masyarakat dena sejak dahulu telah dikenal adalah masyarakat yang religius. semua pelaksanaan dari suatu kegiatan dilandasi dengan suatu aturan yang bertalian dengan agama islam yang dianutnya. hal ini telah berurat berakar pada masyarakat, karena dari awalnya sampai sekarang penduduk desa beragama islam 100%. pemahaman agama condong kepada majhab imam syafii.
Untuk memperkuat dan menambah tebalnya ajaran agama islam yang dianutnya penduduk mempunyai program rutin untuk melakukan pertukaran tuan guru ke desa lain antara lain ke desa ngali, sila nata, belo, dodu dan malah sampai ke kabupaen dompu. dari pertukaran tuan-tuan guru maka muncullah ulama dena antara lain tuan guru H. Usman alias Abu Jenggo, Tuan Guru H. Abdul Aziz, Tuan Guru H. Abdurrahim alias Abu To’i, Tuan Guru H. Hasan, Tuan Guru H. Abubakar, Tuan Guru H. Husen, Tuan Guru H. Mustafa, Tuan Guru H. Mahamu, Abu La No dll.
Periode berikutnya muncullah Tuan Guru H. Assidik, H. Yunus, Ompu Duru Je, H Ahmad Abu ladija, H. Mahamu Abu La beda, Abdul Aziz Ama Hami, dan periode akhir ini muncul tuan guru H. Idris H.M. Siddik, H. Abubakar H. Idris, H. Abdollah Abu Mpore, H. M. Said H.M. Siddik, Tuan Guru Arsyad Muhammad dll.
Masyarakat Dena tidak ingin agama islam yang dianutnya bercampur aduk dengan agama lainnya apalagi yang namanya kafir. Pembaruan dengan agama lain sangat dibencinya, pada tahun 1908 kerajaan Bima dalam keadaan gonjang. suasana politik dalam negeri kesultanan Bima dalam keadaan hangat. Saat itu Sultan Bima mengirimkan utusan ke dena, utusan itu dipimpin oleh Badula Uba Unu, guna menjumpai gelarang Dena (Sebutan bagi kepala desa). saat itu gelarang Dena dipegang oleh La Kao Ama Huse. Utusan itu membawa berita bahwa ompu Dena dengan segenap penduduknya beserta para alim ulamanya harus mengakui dan tunduk pada hasil musyawarah di Pena Pali. hasil musyawarah itu tertuang dalam "sura huri"(surat kulit).
Selanjutnya pesan itu mempertegas agar bila belanda jangan dilawan, karena kalau dilawan akan menimbulkan masalah yang tidak dikehendaki. Menerima kedatangan orang Belanda bukan berarti kita tunduk kepada Belanda. Kebijaksanaan ini merupakan cara diplomasi dari Sultan Bima untuk menjaga terjadi hal-hal yang tidak di kehendaki berhubung pada saat itu suasana kerajaan Bima dalam keadaan tidak normal.
Pesan Sulan ini belum bisa diterima Ompu Dena, karena beberapa tuan guru Dena tidak berada di tempat (H. Usman Abu Jenggo dan H. Abdul Aziz sedang berada di Ngali) dalam rangka pertukaran tuan guru. Kembalilah utusan itu ke Bima dengan tidak membawa hasil.
Sekembalinya tuan guru H. Usman dari Ngali, maka di undanglah segenap tuan guru dan para ulama yang ada di desa. Diadakanlah musyawarah dengan mengambil tempat di masjid Dena. Ompu Dena menyampaikan pesan Sultan Bima yang dierimanya lewat utusan sebagai berikut:
- Masyarakat Dena harus mengakui membayar belasting terhadap Belanda.
- Masyarakat Dena harus menerima kedatangan orang Belanda di Dena dan masyarakat tidak usah dilawan.
Setelah diadakan rembuk bersama dibulatkanlah tekad dan menetapkan:
- Membayar belasting pada Belanda berarti takluk pada Belanda.
- Takut kepada Belanda berarti telah dijajah oleh Belanda dan akan menodai kemurnian agama islam yang dianut oleh masyarakat. di jajah oleh Belanda berarti "KAFIR", daripada kafir lebih baik melaksanakan Perang Sabil, karena perang sabil itu adalah peunjuk agama.
Karena pesan dari Sultan Bima tidak mendapat tanggapan baik dari masyarakat Dena, maka Sultan mengirimkan utusan yang kedua kalinya di pimpin oleh Pajuri Jala.
Pesan raja, jika masyarakat tidak mau mengerti maka akan terjadi peperangan. Sultan Bima tidak mau bertanggung jawab terhadap peristiwa yang akan terjadi.
Maksud kunjungan itupun mengalami kegagalan, beberapa pemuka agama belum kembali di tempat, malah beberapa ulama lainnya berpergian ada yang ke Ngali, Dodu, dan malah ada yang ke daerah kerajaan Dompu. Tuan guru tersebar ke luar kampung karena beberapa hari lagi akan tiba bulan puasa ramadhan.
Kecurigaan Sultan Bima semakin menjadi, masyarakat dan alim ulama Dena masih berpegang pada prinsipnya waktu musyawarah di Pali Pena.
Pada bulan maret 1910 Sultan mengirimkan utusannya yang ketiga kalinya di pimpin oleh Rato Parenta dan didampingi oleh dua orang pengawal. Sesampainya di Sila utusan tersebut mengajak tuan guru dari Sila yang bernama H. Mahamu. Rato Parenta tau betul bahwa tuan guru H. Mahamu mempunyai hubungan keluarga dengan tuan guru Dena. Saat iu putra tuan guru H. Mahamu ingin dipertunangkan dengan putri tuan guru H. Abdurrahim alias Abu To’i yang bernama Sitti Rukaya. Dengan kehadiran H. Mahamu di Dena akan diharapkan melicinkan jalan untuk memahami isi harapan Sultan Bima. Utusan itu diterima oleh ompu Dena dengan segenap alim ulama yang dipimpin oleh H. Usman (Abu Jenggo) seusai utusan itu menyampaikan utusan Sultan Bima, H. Usman alias Abu Jenggo memberikan pernyataan sikap:
”Wahai Rato Parenta utusan paduka Sultan Bima, ampun beribu ampun hamba atas nama sekalian teman dan masyarakat seisi kampung, kami hantarkan kehadapan paduka raja Sultan Ibrahim yang merajai sejagat raya di antero Paju Mbojo, sujud hamba mulai dari telapak kaki sampai keujung rambut.
Titah baginda sultan semuannya kami junjung tinggi, beratnya kami pikul bersama dan ringannya jangan dikata. Titah baginda sultan kali ini oleh hamba dan sekalian penduduk Dena yang tiada berdaya ini di rasa sangat berat.
Orang Belanda menginjakkan kakinya di Dena berarti telah menodai agama islam yang telah dianut oleh segenap penduduk Desa Dena pada khususnya dan masyarakat Dou Mbojo pada umumnya. Orang Belanda adalah orang kafir karena itu kami mohon agar orang Belanda dilarang masuk dan menginjakkan kakinya di desa hamba. Kalau Belanda diijinkan masuk berarti Belanda telah menginjak dan menodai masyaraka tanah Mbojo yang tercinta ini. masyarakat Dena ingin menyucikan agama islam yang dianut oleh seantero manusia yang berada di Desa Dena. Apalah artinya, jika Belanda menginjakan kakinya di desa dena.
Karena itu perkenankan permohonan hamba atas segenap penduduk, agar niat baik dari sultan dapat dapat dipikirkan lebih matang lagi. Kalaupun Belanda terpaksa masuk di negeri hamba, maka dengan segala kemampuan yang ada pada diri hamba dan segenap penduduk akan mencoba memperaruhkan nyawa. Masyarakat Dena akan melawan dengan semboyan perang sabil. Yang kedua hamba berharap agar belasting dan pungutan berupa apa saja janganlah dipungut oleh belanda, tetapi sudilah pungutan itu ditangani langsung oleh raja”.
Siasat Perang
Sekembalinya utusan Sultan Bima, pemuka masyarakat dan alim ulama merasa tidak aman. setiap saat selalu saja dibayangi oleh perasaan dan bayangan yang tidak menentu. Hal tersebut disebabkan karena apa yang diharapkan oleh Sultan Bima lewat utusannya rato parenta ditolak. dalam perkiraan pasti Belanda akan datang dengan cara paksa untuk melaksanakan maksudnya.
Untuk itu Ompu Dena dan segenap alim ulamanya mengadakan musyawarah di Masjid Dena. Semua alim ulama dikumpulkan, semua orang kebal dan tahan makan besi dipanggil. keputusan musyawarah menetapkan:
1. Kedatangan belanda di dena harus dilawan dengan perang sabil.
2. Senjata yang dipakai adalah bedil tumbuk, keris, parang, golok dan tombak.
3. Tugas sebagai pemimpin di setiap medan ditetapkan sbb:
- Panglima perang ditetapkan adalah H. Usman (Abu Jenggo)
- Pembantu-pembantunya adalah H. Abdul Aziz, H. Aburrahim, La Mahamu Ama Beda, Ompu Anco, H. Hasan, H. Abubakar, H. Husen dan H. Mustafa.
- Markas perang ditetapkan di Masjid Dena.
- Dalam peperangan harus menggunakan azimat yang dituliskan pada sebuah perisai yang terbuat dari kulit kerbau. di samping perisai, setiap orang yang berperang harus meneriakkan ALLAHUAKBAR.
- Membuat benteng keliling desa di sebelah timur dari Sori Ngonco sampai di Wadu Kandinci, melawati Wadu Karia Hoe.
- Pengungsian penduduk keluar desa.
- Perlawanan dilakukan diluar desa.
- Membuat ranjau dari bambu/raba sebagai pagar rumah penduduk.
Beberapa penjelasan pembagian tugas pimpinanan:
- Di sektor timur ditugaskan pasukan kebal, disana adalah pintu masuknya musuh. Daerah ini di pimpin oleh sini Ama Timah, Lede Ama Ibu, Ompu Barahi dan dibantu oleh beberapa orang. mereka bermarkas di Doro Le’bo dan Sori Ngonco untuk menunggu kedatangan melewati Sera Mananti.
- Di Wadu Karia Hoe diugaskan La Mahamu Ama Beda yang dibantu oleh beberapa orang, tugas mereka memberi isyarat pada markas bila musuh datang.
- Di sektor utara ditugaskan La Durhama Ama Anco, Dua Jena, Huse Kanti, dan La Usu Ama Tima. Markas mereka di Wadu Bura, mereka bertugas menjaga kemungkinan Belanda datang lewat jalan utara.
- Di sektor barat yaitu di Mangge Kopa ditugaskan La Tami Ama Ali, Dao Ama Jeda dan La Baka Ama Sa.
- Di dalam kampung (di rumah H. Abdurrahim). ditugaskan H. Abdurrahim sendiri dan dibantu oleh beberapa orang temannya. Tugas mereka ialah menjaga orang tua jompo yang tidak sempat diungsikan.
- Di Masjid Dena ditempatkan H. Usman di bantu oleh H. Abdul Aziz dan dibantu oleh beberapa orang ulama disitu dipancangkan bendera perang yang berwarna kuning bergambar pedang terhunus dan bertuliskan kalimat “LAAILAHAILLALLAH MUHAMMADARASULULLAH”.
Pengumpulan Senjata.
Di Desa Dena terkenal beberapa buah senjata bertuah antara lain Keris La Hido, La Soke Loko, La Samada Ade, senjata tersebut dikumpulkan dan disimpan dirumah H. Abdurrahim.
Pengungsian Penduduk.
Untuk menjaga tidak terjadi korban manusia yang banyak, penduduk diungsikan keluar desa kecuali yang usia lanjut tetap tinggal dalam kampung. penduduk diungsikan kesebelah barat desa yaitu di Dembi Dese, di So Ntimbo, di Mada La Wu’i, di Karama Cora, dan sampai di Oi Wulu, tujuan pengungsian pengungsian penduduk ini ialah bila Belanda masuk desa, desa dalam keadaan kosong. yang ada hanya pejuang-pejuang saja.
pertempuran di Sori Ngonco dan Sori Lebo.
Di Sori Ngonco dan Sori Lebo telah ditunggu oleh pasukan Dena dibawah pimpinan Lede Ama Ibu dan La Sini Ama Tima. Pasukannya berjumlah 10 orang. Sejak pagi ditunggu, baru pada jam 14.00 terlihat iringan serdadu Belanda dari arah timur. Karena melihat pasukan Belanda banyak, pasukan Dena terpaksa mundur ke Sori Ngonco di sana terjadi peperangan. Pasukan Dena mencoba memulai tembakan dengan senapan tumbuk yang dimilikinya. Tombak dan keris sudah mulai difungsikan. Saat itu tiba-tiba datang banjir besar di sori le’bo, pertempuran hanya berlangsung beberapa saat saja. Pasukan Dena mengundurkan diri ke seberang sungai, sedangkan pasukan Belanda tetap berada di Sori Ngonco. Pasukan Dena langsung menuju Karia Hoe untuk bergabung dengan pasukan La Muhama Ama Beda.
Pertempuran di Tolo Sera.
pada sore hari sekitar jam 16.00 sore, pasukan Belanda tiba-tiba muncul melewati Tolo Bou, mereka kewalahan karena tidak menemukan jalan masuk Desa. Pada saat mereka mencari jalan masuk ke desa itulah pasukan sambil mencoba melepaskan tembakan beberapa kali, keadaan itu menembah panas bagi serdadu Belanda. Kemarahan Belanda memuncak. benteng itu dibakarnya habis-habis sehingga dengan mudah tentara belanda masuk di Wadu Karia Hoe yang telah diunggu oleh gabungan pasukan Sabil. Tolo Sera pada saat itu telah di tanami padi, sehingga tanahnya menjadi becek berlumpur, terjadilah pertempuran sengit di tempat itu, suara bedil dan gema ALLAHUAKBAR menggemuruh, namun pasukan sabil tidak gentar karena mereka sudah menganggap dirinya telah dipersenjatai dengan ilmu kebal dan tahan makan besi. Pasukan sabil maju terus dengan maksud untuk melawan dari dekat, tentara Belanda mengalami kesulitan karena pada tempat pertempuran itu penuh dengan tanah lumpur dan rawa air sehingga sulit untuk bergerak dengan cepat. kesempatan baik buat pasukan sabil untuk memainkan peranan dengan ilmu kebal yang mereka miliki. Sementara La Sini Ama Tima dan La Lede Ama Ibu terpaksa harus mengakui keunggulan tentara Belanda. Pada saat itu pula La Sini Ama Tima dan La Lede Ama Ibu tewas kena peluru tepat kena dadanya, sedangkan Ompu Barahi dan beberapa temannya ditawan belanda. Karena hari sudah mulai malam, pertempuranpun terhenti, tentara Belanda membuat kemah dilapangan di sekitar Tolo Sera yaitu di Fo’o Fanggi, mereka membuat kemah di bawah pepohonan dan di situlah sempat Belanda mengetahui segala taktik siasat pasukan sabil dari tawanan mereka yaitu Ompu Barahi dan kawan-kawannya. Pada malam hari itu tentera Belanda mendapat serangan tentara Allah yaitu gigitan nyamuk. Kebetulan di tempat itu terdapat sebuah tempat rawa yaitu So Mbanggu, tempat tersebuat adalah sarang nyamuk malaria yang merupakan pusat nyamuk malaria yang selalu menghantui masyarakat Dena.
Dari peperangan di Tolo Sera itu telah gugur beberapa orang pasukan sabil, disamping Lede Ama Ibu dan Sini Ama Tima. Namun dari pihak Belanda juga telah menjadi korban seorang pembantu pimpinan perangnya bernama Marsose di samping sejumlah besar orang serdadu belanda lainnya.
Pertempuran Dalam Kampung.
Karena Sini Ama Tima dan Lede Ama Ibu telah tewas dalam pertempuran di Tolo Sera, maka kekuatan seakan-akan mengendor, dimana keduanya adalah orang yang dapat mempertahankan perlawanan dari musuh, keduanya adalah termasuk orang yang kebal. Di tambah lagi beberapa anggotanya ditawan oleh Belanda. tentu saja strategi dan segala rahasia perjuangan sudah diketahui oleh belanda, pada malam harinya serdadu Belanda mengubah strategi.
Pejuang Dena merubah strategi perlawanan dengan dipusatkan di Desa Dena dengan cara masuk dan bersembunyi dalam kolong rumah masing-masing, bila tentara Belanda sementara lewat di samping rumah, maka segera ikatan pagar rumah yang dibuat dari bambu itu segera dilepaskan dan terus diinjak-injak. pasukan yang berada di Wadu Bura dan di Mangge Kopa segera disatukan untuk memperkuat pertahanan yang ada dalam Desa, dan memperkuat markas di Masjid Raya Dena yang dipimpin oleh Abu jenggo, H. Musafa dan H. Abdul Aziz.
Pada waktu pagi harinya Belanda mulai menyerang dari arah timur muai memasuki desa menyebar mencari markas yang telah ditentukan. Mereka tidak mempunyai perhatian pada masyarakat yang ada di dalam desa karena mereka tahu bahwa pimpinan peperangan telah mempertahankan markas sabil yang berada di Wadu Bura dan Mangge Kopa. Namun yang mereka jumpai disana hanyalah hening dan sepi. Akhirnya mereka mulai memasuki desa dan tersebar disegala penjuru, dicarilah pusat markas yang berada di masjid raya Dena, di dalam perjalanan menuju masjid, terdengarlah teriakan ALLAHU AKBAR yang menggema di udara bersahut-sahutan. suara teriakan ALLAHU AKBAR ini seraya berasal dari orang ua-tua yang dikumpulkan pada sebuah rumah panggung yang merupakan milik dari H. Abdurrahim Alias Abu To’i (Abu La Sara) dan pada saat itu Abdurrahim bertindak sebagai penjaga musuh dihalamannya. Di halaman rumahnya duplikat bendera Perang Dena yang bertuliskan “LAA ILAHAILLALLAH MUHAMMADARRASULULLAH”.
Setelah pasukan Belanda melihat keadaan semacam itu dilepaskannyalah tembakan oleh Belanda, H. Abdurrahim belum sempat melepaskan tombak dan keris pusaka yang ada ditangannya, sedangkan peluru Belanda telah lebih dahulu menembus dadanya, pada saat itu juga beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Tembakan peluru Belanda semakin mengganas menuju ke arah rumah panggung berdinding papan milik H. Abdurrahim, pekikan Allahuakbar teap menggema di udara. Peluru yang bertubi-tubi di tembakan itu, satu persatu mengenai sasarannya seisi rumah yang berjumlah lebih kurang 20 orang, dan tertinggal sisa 2 orang yang masih hidup. Mereka itu ialah La Tija Ina Biba dan La Jena. Keduanya kena peluru pada pahanya. Akhirnya mereka cacat dan kakinya pincang, sehingga dimasa hidupnya kedua pahlawan itu dijuluki dengan Wa’i Biba Ncepa dan Wa’i Janu Bari.
Sumber cerita diperoleh dari Wa’i Biba ncepa dan Wa’i janu bari, para suhada ini semuanya dimakamkan dalam satu liang lahat yang berlokasi di halaman muka Masjid Raya Baitussyuhada Dena sekarang ini. Kini kuburan tersebut tidak mendapat perhatian, sebahagiannya telah dipindahkan ke lokasi lain kira-kira pada tahun 1966.
Pada malam harinya perjuangan dialihkan ke rumah H. Abdurrahim. mereka mengintip di kolong rumah sambil menunggu pasukan Belanda datang, bila pasukan Belanda mendekati rumah itu, langsung mereka melepaskan pagar rumah (raba). Pagar rumah yang terbuat dari bambu itu ditindiskan pada tubuh musuh selanjutnya kerisnya. Ditempat itu seorang serdadu Belanda tewas, mayatnya dikuburkan di ujung timur laut Desa Dena, kini biasa disebut orang tempat itu dengan sebuan Rade Bari (kubur Belanda), tempat itu adalah sebuah kubangan kerbau rakyat, sekarang lokasi tersebut telah dijadikan tempat perumahan rakyat.
Tiga orang pimpinan di markas yaitu di Masjid Dena yang letaknya 100 meter dari sebelah barat masjid raya Dena bersisian dengan tepi sungai Dena. Ketika Belanda menyerang markas pejuang dena, mereka tidak ada di tempat, perlawanan terhadap Belanda terhenti. Bendera perang yang terpasang di halaman masjid direbut Belanda dan langsung dibakarnya. Beberapa orang tawanan termasuk Ompu Anco dan pembesar Belanda melanjukan perjalanan menuju sebuah tempat bernama wadu bura.
Perdamaian Wadu Bura.
Dua ratus meter jauhnya dari masjid Dena yang menjadi markas perang terdapat sebuah tempat bernama Wadu Bura, tempat itu merupakan bagian dari sebuah kampung jaman silam yang dijuluki sekarang dengan nama Rasa Ntor. Ditempat itu bermukim keluarga besar Ompu Anco, oleh Ompu Anco memberi petunjuk kepada Belanda untuk pergi ke Wadu Bura. Diperkirakan tiga orang pimpinan perang Dena telah mengungsikan dirinya ke desa. Ternyata mereka telah berpindah tempat, oleh mereka tempat itu juga dijadikan tempat bermusyawarah sebelum perang terjadi.
Atas prakarsa Mahamu Ama Beda ketika pimpinan itu dipanggil untuk hadir di Wadu Bura termasuk La Kao Ama Huse, di tempat tersebut dibuatkan semacam perjanjian dan pernyataan yang isinya antara lain:
- Pimpinan perang dena harus segera menghadap Sultan Bima.
- Semua senjata milik pasukan dena dilucuti dan diserahkan pada Belanda.
- Jika perintah ini tidak diindahkan atau dilaksanakan dalam waktu satukali dua puluh empat jam, maka semua isi kampung Dena akan dibakar habis dan pasukan Dena akan ditahan dan disere ke dalam penjara.
Follow Twitter @Info_Mbojo & Facebook Info Mbojo
La Lino
12/05/12
Satu lagi kekayaan warisan leluhur Dana Mbojo yang luput dari pengetahuan public.Kekayaan tak ternilai itu adalah sebuah Mushaf Alqur’an yang dijuluki La Lino. Saat ini, warisan dari abad 17 M itu menjadi koleksi Museum Baitul Qur’an Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. La Lino ditulis oleh Syekh Subur, seorang Imam Masjid Kesultanan Bima sekaligus guru dari Sultan Alaudin yang memerintah pada 1731 -1748 M. Selanjutnya jejak syekh Subur dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Abdul Gani Bima, guru besar di Madrasah Haramayn Masjidil Haram di penghujung abad 19.
Label:
Artikel,
Bima,
Budaya,
Budaya Bima Mbojo,
Buku,
Pariwisata,
Pariwisata Bima,
Sastra,
Sejarah,
Wisata,
Wisata Bima Mbojo
Buku: Kerajaan Bima Dalam Sastra dan Sejarah
10/01/12
Referensi buku "Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah" karangan Henri Chambert - Loir, produksi Kepustakaan Gramedia, Ècole Française d'Extrême - Oreint Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)











