Tampilkan postingan dengan label Tarian Bima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarian Bima. Tampilkan semua postingan

Pengaruh Gowa Terhadap Kesenian Bima (Mbojo)

02/07/12

Gowa membawa pengaruh yang besar terhadap kesenian di Bima, termasuk di Maria. Pada masa ini kesenian berkembang dengan pesat sultan menyediakan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan untuk pengembangan kesenian, anak-anak desa yang berbakat akan diboyong ke istana dan dilatih menari lebih baik lagi. Dan dalam pelaksanaannya terlihat adanya pengaruh Makasar dan Bugis. Selain dalam gerakan tari itu sendiri, pengaruh lainnya terlihat pada busana, aksesoris, alat dan musik pengiringnya.
Baca Selengkapnya | Komentar

Tarian Bima: Hadara Rebana

16/05/12

Jenis atraksi kesenian ini telah berkembang pesat sejak abad ke – 16 pada masa keemasan kesultanan Bima. Hadrah Rebana merupakan jenis atraksi yang telah mendapat pengaruh ajaran islam.
Baca Selengkapnya | Komentar

Tarian Bima: Tari Buja Kadanda

Tarian atau Mpa’a Buja Kadanda merupakan salah satu dari sekian banyak tarian heroik warisan kesultanan Bima. Tarian ini digolongkan dalam Tari Rakyat atau Tari yang berkembang di lingkungan masyarakat seiring perkembangan kesultanan Bima.
Baca Selengkapnya | Komentar

Tarian Bima: Tari Soka

Tarian ini berasal dari Desa Sari Kecamatan Sape Bima. Soka telah dikenal seiring dengan masuknya islam dikecamatan tersebut, menurut catatan sejarah bahwa islam masuk ke Bima melalui kecamatan sape yang dibawa oleh para mubaligh dari Gowa dan Makasar.
Baca Selengkapnya | Komentar

Tarian Bima: Kareku Kandei


Kareku Kandei atau memukul lesung dengan berbagai ragam ritme dan irama adalah sebuah tradisi unik masyarakat Bima yang telah berlangsung sejak zaman dulu. Atraksi ini biasa dilakukan oleh kaum perempuan terutama setelah selesai menumbuk padi secara bersama-sama. Hal ini dilakukan sebagai hiburan dan pelepas lelah setelah menumbuk padi dan membersihkannya hingga menjadi beras.

Atraksi ini biasa dilakukan pada sore hari atau malam hari. Disamping itu, Kareku Kandei juga dilaksanakan pada saat Gerhana Matahari atau Gerhana Bulan diiringi bunyi kentongan sebagai pertanda bahwa Gerhana sedang terjadi.

Atraksi unik ini dimainkan oleh sekitar 4 sampai 6 orang perempuan dengan menggunakan Alu yang dalam Bahasa Bima disebut Aru. Alu atau Aru terbuat dari Kayu seperti Kayu Nangka, kadang juga terbuat dari Bambu. Sedangkan Lesung terbuat dari berbagai jenis kayu, tapi yang sering dijumpai adalah pembuatan Lesung (Kandei ) dari jenis Kayu Nangka. Karena Jenis Kayu ini dinilai sangat bagus dan menggema suaranya. Pada Zaman dulu, Kareku Kandei juga diringi senandung E Aule dan iringan Biola serta Gambo( Gambus) yang dilaksanakan terutama saat-saat panen padi dan sebagai ajang berkumpulnya muda mudi untuk bersyair, berpantun dan bersenandung.
Baca Selengkapnya | Komentar

Tarian Bima: Ntumbu (Adu Kepala)

Adu Kepala atau dalam Bahasa Bima disebut Ntumbu, sampai saat ini belum diketahui secara pasti kapan atraksi kesenian seperti ini mulai ada di Bima. Karena Atraksi  Ntumbu ini hanya ditemkukan di Desa Nori Kecamatan Wawo.
Beberapa sejarahwan dan budayawan berpendapat bahwa atraksi ini telah ada pada zaman kesultanan Bima pada abat ke 17. Hampir 90 persen atraksi kesenian tradisional Bima didominasi oleh atraksi ketangkasan yang menggambarkan semangat patriotisme dan kepahawanan. Hal itu dibuktikan dengan penggunaan alat-alat ktangkasan dan perlengkapan perang seperti parang, tombak, keris dan lain-lain dalam setiap atraksi.
Baca Selengkapnya | Komentar (1)

Tarian Bima: Gantao

Jenis atraksi ini berasal dari Sulawesi Selatan dengan nama asli Kuntao. Namun di Bima diberinama Gantao. Atraksi seni yang mirip pencak silat ini berkembang pesat sejak abad ke-16 Masehi. Karena pada saat itu hubungan antara kesultanan Bima dengan Gowa dan Makasar sangat erat. Atraksi ini dapat dikategorikan dalam seni Bela diri (Silat), dan dalam setiap gerakan selalu mengikuti alunan musik tradisional Bima (Gendang, Gong, Tawa-tawa dan Sarone).
Baca Selengkapnya | Komentar

Tarian Bima: Jiki Dan Hadrah Rebana


Pada masa kesultanan Bima dan Dompu, seni budaya islam berkembang pesat di daerah Bima dan Dompu. Jenis seni musik islam yang sangat digemari oleh masyarakat ialah “Jiki” (jikir), terdiri dari:
Baca Selengkapnya | Komentar

Tarian Bima: Tari Sere

Pada masa kejayaan kesultanan Bima, banyak sekali tarian dan kreasi seni yang diciptakan. Secara umum, tarian tradisional Bima dibagi dalam tiga kelompok, YaItu Tari klasik Istana atau yang dikenal dengan Mpa’a Asi, Tarian Rakyat atau Mpa’a Ari Mai Ba Asi, serta tarian Donggo. Tarian Donggo adalah tarian yang dikreasi oleh masyarakat Donggo dan ditujukkan untuk upacara-upacara Adat.
Baca Selengkapnya | Komentar

Tarian Bima: Tari Wura Bongi Monca

Seni budaya tradisonal Bima berkembang cukup pesat pada masa pemerintahan sultan Abdul Kahir sirajuddin, sultan Bima ke-2 yang memerintah antara tahun 1640 -1682 M. Salah satunya adalah Tarian Selamat Datang atau dalam bahsa Bima dikenal dengan Tarian Wura Bongi Monca. Bongi Monca adalah beras kuning. Jadi tarian ini adalah Tari menabur Beras Kuning kepada rombongan tamu yang datang berkunjung.
Baca Selengkapnya | Komentar

Tarian Bima: Lenggo

Pada zaman dulu, Istana Bima atau Asi Mbojo tidak hanya berfungsi sebagai pusat Pemerintahan. Asi juga merupakan pusat pengembangan seni dan budaya tradisional. Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin (Sultan Bima yang kedua) yang memerintah antara tahun 1640-1682 M, Seni budaya tradisional berkembang cukup pesat. Salah satu seni tari yang tetap eksis hingga saat ini adalah Tari Lenggo.
Baca Selengkapnya | Komentar

Jenis Tarian Bima Dana Mbojo

Perkembangan budaya di Bima tidak terlepas dari asimilasi dan akulturasi budaya Bima (Mbojo) dengan daerah lain di Indonesia, termasuk itu untuk tari-tarian. Berikut beberapa Nama tari tradisional daerah Bima baik itu merupakan asli dari Bima itu sendiri maupun yang melalui proses akulturasi dengan budaya luar.

Secara garis besar tarian tradisional Bima dibagi dalam dua kelompok yaitu Mpa’a Asi (Tarian Istana) dan Mpa’a Ari Mai Ba Asia tau tarian diluar Istana yang lazim dikenal dengan tarian rakyat. Pada masa lalu dua kelompok seni tari ini berjalan beriringan dan berkembang cukup baik.


Tari Istana dikelompokkan dalam dua kategori sesuai jenis kelamin penarinya. Yaitu:
a. Tari Siwe (tari perempuan), yaitu jenis tari yang dimainkan oleh para penari perempuan seperti lenggo siwe (lenggo Mbojo), toja, lengsara, katubu dan karaenta.
b. Tari Mone (tari laki–laki), yaitu jenis tari yang dimainkan oleh penari laki – laki, seperti kanja, sere, soka, manca, lenggo mone (lenggo melayu) dan mpa’a sampari.


Sedangkan Tari Ari Mai Ba Asi (tari di luar pagar istana), dalam pengertian tari rakyat, meliputi mpa’a sila, gantao dan buja kadanda. Semua jenis tari dimainkan oleh penari laki–laki. Tidak ada jenis tari rakyat yang dimainkan oleh penari perempuan. Selain itu, masih ada lagi jenis tari yang merupakan perpaduan antara seni tari dan seni musik yaitu Jiki Hadra (Jikir hadrah), dimainkan oleh para penari dan penyanyi laki–laki.
Baca Selengkapnya | Komentar

Foto Bima

Lihat Foto Lain»

Destinasi Wisata

Lihat Selengkapnya »

Budaya Bima

Lihat Selengkapnya »

Kuliner Bima

Lihat Selengkapnya »
 
Support : Forum Dou Mbojo | Tofi Foto | Info Mbojo
Copyright © 2007. Mbojo Network, Berita dan Informasi Bima Dana Mbojo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Dominion Rockettheme
Proudly powered by Blogger