Tampilkan postingan dengan label Tokoh Bima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Bima. Tampilkan semua postingan

Tokoh: Pak Hilir Ismail, Tokoh Budayawan Bima

08/09/12


Dia tinggal di sebuah rumah panggung. Rumah itu berlokasi di tengah permukiman padat penduduk di RT 15, Kelurahan Rabangodu Utara, Kecamatan Raba, Kota Bima, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Menuju ke rumah panggung itu, kita harus melewati gang yang lebarnya tak cukup untuk dua sepeda motor berpapasan.

Lama sekali kita tidak ketemu,” kata M Hilir Ismail, si pemilik rumah, sambil menyalami Kompas. Jemari tangannya menjepit bolpoin. ”Saya lagi nulis-nulis, melengkapi tulisan yang akan saya bukukan,” ucapnya.
Baca Selengkapnya | Komentar (2)

Sejarah Kumala "Bumi Partiga" Satu-satunya Sultan Perempuan (Sultanah) Bima

27/05/12

Wanita ini bernama Kumala, satu-satunya sultan perempaun (Sultanah) dalam sejarah kesultanan Bima.  Sebelum diangkat menjadi sultan bergelar Bumi Partiga yaitu sebuah jabatan di Istana Bima yang memiliki tugas sebagai pejabat yang mengajarkan Tata Krama yang harus dilakukan oleh setiap putera dan puteri sultan Bima. Kumala merupakan tokoh wanita Bima pada abad XVIII yang memiliki komitmen untuk menaikkan eksistensi Kesultanan Bima di Nusantara.
Baca Selengkapnya | Komentar

Buku: Iman dan Diplomasi, Serpihan Sejarah Kerajaan Bima

Henri Chambert-Loir, Massir Q. Abdullah, Suryadi, Oman Fathurahman, H. Siti Maryam Salahuddin, Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), kerja sama dengan École française d'Extrême-Orient (EFEO), dan Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Maret 2010, 222 hlm.

Satu lagi, kontribusi para filolog bagi dunia keilmuan dapat dinikmati. Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima, demikian judul buku karangan bersama Henri Chambert-Loir, Massir Q. Abdullah, Suryadi, Oman Fathurahman, dan H. Siti Maryam Salahuddin ini menyapa pembaca.

Dengan sampul unik berupa ilustrasi tanda tangan Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah, yang disalin dari naskah Perjanjian antara Kerajaan Bima dan Kompeni Belanda, 26 Mei 1792, buku ini menghadirkan tiga hasil telaah atas naskah-naskah yang berasal dari Kesultanan Bima, antara tahun 1775 sampai 1882. Para penulisnya: Henri Chambert-Loir, Massir Q. Abdullah, Suryadi, Oman Fathurahman, dan H. Siti Maryam Salahudin adalah mereka yang telah lama ‘bercengkrama' dengan dunia pernaskahan Nusantara.
Baca Selengkapnya | Komentar

Tahir, Sang "Pemburu" Kata-kata Bima

24/05/12


Ruangan berukuran 4 meter x 6 meter di pojok depan halaman rumahnya itu dijadikan perpustakaan pribadi sekaligus ruang kerja. Dari ruangan itulah, H Muhammad Tahir Alwi membangun proses kreatifnya. Ketimbang selaku pensiunan pegawai negeri sipil, ia justru lebih dikenal sebagai penulis dan pemerhati budaya Bima (Mbojo—yang mendiami Kabupaten Bima dan Dompu).

Baca Selengkapnya | Komentar

Komodo Dalam Surat Sultan Ibrahim


Sultan Ibrahim, Ruma Ma Wa'a Taho Parange (1881-1915)
Saat ini publik mengetahui bahwa Komodo, reptile terbesar di abad ini yang telah menjadi The Seven Wonder  versi UNESCO itu berada di wilayah Propinsi NTT. Tapi pada masa lalu pulau Manggarai, Flores dan sekitarnya, termasuk pulau kecil  Rinca dan Padar, tempat Komodo itu tinggal merupakan bagian dari teritorial kerajaan Bima. Kiprah Sultan Ibrahim (Ma Wa'a Taho Parange, 1881-1915) untuk menjaga, merawat dan melestarikan ekosistim dan spesies Komodo dari kepunahan. Dengan kata lain bahwa upaya pelestarian Komodo sebenarnya sudah dilakukan oleh kearifan lokal tempo dulu melalui surat dan peraturan hadat yang dibuat Sultan Ibrahim bersama masyarakat di wilayah Manggarai dan sekitarnya.
Baca Selengkapnya | Komentar

Sejarah Perjuangan Sultan Muhammad Salahuddin

23/05/12


Tokoh yang memegang peran utama dalam Perkembangan sejarah Bima pada awal abad XX adalah salah seorang putra sultan Ibrahim (Sultan XIII) dengan permaisurinya Siti Fatimah Binti Lalu Yusuf Ruma Sakuru yaitu Sultan Muhammad Salahuddin. Lahir di Bima pada tanggal 15 Zulhijah 1306 H (14 juli 1889), memiliki 11 orang saudara. Tiga saudara seayah seibu masing – masing bernama Abdullah (Ruma Haji), Abdul Qadim (Ruma Siso), dan Nazaruddin (Ruma Uwi). Saudara seayah terdiri dari Siti Hafsah, Abdul Azis, Sirajuddin (Ruma Lo), ibunda ketiganya bernama, Siti Aminah,  kemudian Siti Aminah (Ruma Gowa) ibundanya karaeng Bonto Ramba Putri, Karaeng Mandale, Siti Aisyah (Ibundanya bernama Baena), Lala Ncandi (Ibunya bernama Aisyah), Ahmad (Ibunya bernama Sakinah) dan La Muhammad (Ibunya bernama (Hamidah).
Baca Selengkapnya | Komentar

Foto Bima

Lihat Foto Lain»

Destinasi Wisata

Lihat Selengkapnya »

Budaya Bima

Lihat Selengkapnya »

Kuliner Bima

Lihat Selengkapnya »
 
Support : Forum Dou Mbojo | Tofi Foto | Info Mbojo
Copyright © 2007. Mbojo Network, Berita dan Informasi Bima Dana Mbojo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Dominion Rockettheme
Proudly powered by Blogger