Home » , , , , » Identitas Bima (Mbojo) Dari Peninggalan Purbakala

Identitas Bima (Mbojo) Dari Peninggalan Purbakala


Sejarah dari Benda-Benda Peninggalan  Sejarah dan Purbakala 
a. Megalitik Lesung Batu (Kendi Air)
Berada di sebuah puncak gunung di Desa Maria. Situs ini diperkirakan sebagai kendi air (tempayan) pada masa zaman ncuhi, karena di Desa Maria terkenal dengan seorang ncuhi yang bernama Ncuhi Maria.

b. Megalitik Batu Tapak Kaki
Berbentuk menyerupai tapak kaki manusia, namun sudah menyerupai batu. Letaknya di Desa Maria yaitu di atas sebuah bukit yang bernama Doro Ndepa, yang berarti gunung tempat mengadu kekuatan/berkelahi.

c. Megalitik Batu Lesung Doro Tawoa
Berada di sebuah puncak gunung di Desa Maria.

d. Maket Rumah dari Batu (Uma Wa’i Tawoa)/ Wadu Ruka
Maket ini sebelumnya, sekitar tahun 1950 ada di Desa Karumbu/Waworada. Oleh Jeneli Wawo Daeng Kewo diangkut dan dibawa ke Kantor Jeneli Wawo.

e. Maket Rumah dari Batu di Desa Teta
Maket rumah ini sama dengan maket rumah Uma Wa’i Tawoa.

f. Megalitik Lesung Batu Ncuhi Kaliwu
Berada di Desa Pesa (Kambilo), namanya dalam bahasa Bima Wadu Nocu Kaliwu. Menurut cerita, bahwa Ncuhi Kaliwu sebagai kepala suku Masyarakat Kambilo. Batu ini sama dengan batu lesung yang ada di Desa Maria.

g. Bekas Tapak Kaki Manusia dan Anjing
Batu ini terdapat di padang Gunung Lambitu di Desa Sambori. Selain tapak kaki manusia dan anjing juga terdapat tempat untuk memberi makan anjing yang disebut Teru Lako.

h. Batu Permainan Kajuji (Congklak)
Berada di Desa Maria dengan senbuah sumur air yang bernama Temba Mbojo serta sebuah bukit yang bernama Doro Dara.menurut sejarah turun temurun bahwa Bima dulu berada di Wawo. Karena adanya peristiwa alam berupa turunnya air laut dan dataran menjadi luas sampai belasan kilometer, maka Bima dipindahkan ke dataran dekat laut tersebut.
Sebagai bukti kebenaran cerita tersebut, di Maria ada beberapa bukti sejarah berupa nama  benda ataupun tempat yang sama dengan nama-nama benda atau tempat yang ada di Kota Bima sekarang :
  • Doro Dara
  • Sumur Mbojo (Temba Mbojo)
  • Kuburan Prajurit Jalaluddin
Kuburan ini berada di sebelah barat Desa Maria atau di sebelah barat Pesanggerahan Wawo, di atas sebuah bukit dibawah pohonyang rindang.
Menurut silsilah, Tureli Nggapo atau Ruma Ma Wa’a Bilmana mempunyai dua orang anak yaitu La Mbila (Prajurid Jalaluddin) dan Rato Ara (Guru Ara).
  • Kuburan Manggapo Jawa (di Ncuru) ; Manggapo Jawa adalah salah seorang juru bicara Sangaji Bima, yang sangat sakti dan bertugas membagi wilayah perbatasan kecamatan. Kuburannya, berada di sebuah gunung sebelah timur Rasa To’i Maria, yaitu Doro Ncuru Maria
  • Kuburan Rato Ara ; Kuburan ini berada di sebelah selatan Gunung Maria. Batu nisannya hanya satu. Rato Ara ini memimpin orang Wawo sejak mereka berada di Wosu ro Ndaru yang terletak di bagian utara timur laut Gunung Maria. Di Wosu ro Ndaru masih tersimpan bekas peninggalan mereka berupa : Wadu Sigi, Wadu Sampai, Sori Sigi dan Oi Besi. 
  • Bekas Kampung Bedi/Sadia
i. Kuburan Bersejarah
  • Kuburan Manggapo Jawa
  • Kuburan Prajurit Jalaluddin
  • Kuburan Rato Ara
  • Kuburan Ncuhi La Maria ; Kuburan ini terdapat di kampung lama Desa Maria (Rasa To’i) Maria, yaitu di sebelah timur Desa Ntori. Adapun kehadiran Ncuhi Maria diceritakan bahwa Ncuhi Maria adalah salah satu anak Rato Ara yang merupakan pemimpin agama atau spiritual masyarakat Wawo pada masa sebelumnya. Guru Ara sendiri adalah salah satu anak dari Sangaji yang bernama Tureli Nggapo II.
  • Kuburan Ncuhi Ntori ; Penduduk Ntori pada masa ncuhi memiliki seorang pemimpin yang disebut Ncuhi Ntori. Kuburannya berada di sebelah barat Kampung Ta’a Ntori atau di So Bangguwa. Ncuhi Ntori terkenal memiliki ilmu kekuatan dalam. Sedangkan Ncuhi Maria terkenal memiliki ilmu mempertajam senjatanya yang terbuat dari besi atau di sebut Kawari Besi. Dari dasar itulah timbul permainan Manca dan Buja Kadanda dari anak buah Ncuhi La Maria dan Permainan Ntumbu dari anak buah Ncuhi Ntori.
j. Bekas Benteng Pertahanan dan Markas Bersenjata
Di bagian barat kuburan Prajurit Jalaluddin ada sebuah bekas benteng pertahanan yang terbuat dari batu bersusun dan tempat persenjataan (bedi) yaitu di jalan Kacambi Jawa. Jalan ini digunakan oleh orang Sape dan Wawo sebelum adanya jalan raya sekarang.

k. Bekas Bangunan Mesjid Pertama Bima
Mesjid pertama di Bima yang dibangun oleh Raja Abdul Kahir (La Kai) dengan mubalik-mubalik Islam yang datang sari Gowa, bertempat di Doro Solu Desa Kalodu Wawo.nama mesjid tersebut adalah Mesjid Kamina. Mesjid tersebut berbentuk segi delapan dengan tiang tengah hanya satu buah.
Setelah Raja La Kai naik tahta, mesjid Kamina diperintahkannya dipindahkan ke Kampung Kambilo (Desa Pesa) dengan semua peralatannyaberupa Tiki Sigi (tongkat) dan beduk.

l. Mesjid Besar Maria
Mesjid ini didirikan pada tahun 1936 M.

m. Pasanggerahan Wawo dan Kolam Renang
Bangunan ini didirikan pada tahun 1936 oleh pemerintah Belanda. Letaknya di Desa Maria, tidak jauh dari lokasi lengge tradisional.

n. Bangunan Bekas Kantor Jeneli Wawo
Bangunan bekas Kantor jeneli, bekas tempat tinggal Jeneli Wawo dan paruga parentahnya, didirikan pada tahun 1936 oleh pemerintah Belanda. Letaknya pada pertigaan jalan Wawo-Sape dan jalan yang menuju Pasanggrahan Wawo.
o. Kompleks Buah-Buahan Milik Sultan Bima

p. Lengge Tradisional
Lengge tradisional ada dua macam :
  • Lengge untuk menyimpan bahan makanan seperti : paadi, jagung, dan kacang-kacangan. Lengge ini berada di Desa Maria Kecamatan Wawo dan ditempatkan secara khusus, tersendiri di luar kampung tempat tinggal. Cara ini terkandung dua nilai manfaat, yaitu :
    1. Untuk menjaga bencana kebakaran. Apabila kebakaran terjadi pada rumah atau tempat tinggal, maka bahan makanan tidak ikut terbakar. Demikian pula sebaliknya apabila lumbung terbakar, maka rumah tinggal tidak ikut terbakar.
    2. Bersifat mendidik hidup hemat karena apabila isteri seseorang dua kali pergi mengambil bahan makanan di lumbung dalam seminggu, maka keluarga lain menganggapnya sebagai isteri yang boros.
  • Lengge untuk tempat tinggal. Lengge ini ada di Desa Sambori Kecamatan Wawo dan sampai sekarang masih dipakai untuk tempat tinggal penduduk. Lengge tradisional Sambori memiliki keunikan tersendiri dimana terdapat dua buah pintu khusus. Pintu khusus pertama berada di bagian bawah kolong lengge digunakan untuk pintu untuk naik dan turun pada rumah lengge setiap hari. Sedangkan pintu kedua berada di bagian sampaing lengge digunakan untuk menurunkan mayat atau jenazah pada saat ada kematian di lengge tersebut.
  • Bentuk lengge Sambori sama dengan bentuk lengge Maria. Keduanya diberi atap dengan alang-alang.


Santabe ta komentar mena, bune kombi menurut ndai kaso


Follow Twitter @Info_Mbojo & Facebook Info Mbojo


My Great Web page

Share this article :

0 Komentar:

Posting Komentar

Santabe, ta komentar mena, bune kombi menurut ndai kaso ta re

 
Support : Forum Dou Mbojo | Tofi Foto | Info Mbojo
Copyright © 2007. Mbojo Network, Berita dan Informasi Bima Dana Mbojo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Dominion Rockettheme
Proudly powered by Blogger