Wunga Loading... Kalembo Ade
Home » , , , » Rumah Dan Filosofi Para Leluhur

Rumah Dan Filosofi Para Leluhur

Bagi masyarakat Bima Rumah atau "Uma Ngge’e Kai"  merupakan kebutuhan paling pokok dalam kehidupan keluarga. Dalam falsafah masyarakat Bima lama bahwa orang yang baik itu  yang berasal dari keturunan yang baik, harus mempunyai istri yang berbudi mulia, rumah yang kuat dan indah, senjata pusaka yang sakti dan kuda tunggang yang lincah. Dari ungkapan di atas, jelaslah bahwa rumah merupakan kebutuhan pokok yang tidak boleh diabaikan. Karena itu dalam membangun rumah  harus memilih "Panggita" atau arsitek yang memiliki "Loa Ra Tingi" yang tinggi dan berakhlak mulia. Panggita juga harus memahami "Sasato" (Sifat atau pribadi) pemilik  rumah. Baku Ro Uku atau bentuk dan ukuran dalam arti tata ruang harus disesuaikan dengan sifat dan kepribadian pemilik rumah.

Bentuk dan jenis rumah Bima hampir sama dengan rumah tradisional Makassar dan Bugis. Di Bima dikenal dua jenis rumah yaitu Uma Panggu Ceko dengan gaya arsitektur tradisional Makassar dan Uma Panggu Pa’a gaya arsitektur tradisional Bugis. Dari dua jenis rumah itu, sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar. Pada tiang Uma Ceko dipasang dua buah ceko (siku)  untuk menunjang kekuatan Nggapi (pengapit). Sedangkan pada tiang Uma Pa’a tidak dipasang ceko (Siku), pengapit pada "Uma Pa’a" terdiri dari sepasang Kayu. Sebaliknya Nggapi (Pengapit ) Uma Ceko terdiri dari dua buah kayu yang akan ditopang oleh Ceko (Siku).

Ukuran atau jumlah bilik rumah Bima tergantung jumlah tiangnya yaitu Sampuru Ini Ri’i (Enam Belas Tiang), Sampuru Dua Ri’i (Dua Belas Tiang), Ciwi Ri’i (Sembilan tiang), Ini Ri’i ( Enam Tiang).  Rumah enam belas tiang memiliki panjang sekitar sembilan meter dan lebar sekitar 6 meter. Yang dua Belas tiang memiliki panjang sekitar 8 meter dan lebar 5 meter. Untuk yang sembilan dan enam tiang ukuran panjang dan lebarnya disesuaikan secara ideal dengan tinggi tiang dan jumlah kamar atau biliknya. Rumah Enam Belas Tiang memiliki 4 bilik atau kamar yang di sebut "Ro". "Ro Tando" berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara. Pada Saat tertentu digunakan untuk kamar tidur Tamu. Ro Dei (Ruang Dalam) untuk tempat tidur Ayah Ibu. Ro Do (Ruang Selatan) terdiri dari dua bilik  yaitu untuk tempat tidur anak-anak putera. Pada umumnya anak gadis tidur dan beristirahat di Pamoka (Loteng) sambil menenun dan menyulam. Kalaupun posisi rumah menghadap barat-timut, maka Ro Do disebut Ro Ele(Ruang Timur). Jadi nama ruang(bilik) ketiga dan ke empat tergantung dari arah berdirinya rumah. Idealnya Rumah harus menghadap arah barat-timur.

Pada umumnya semua rumah dibuat dari kayu jati dan kayu hutan yang bermutu,   kuat dan tahan lama. Atap rumah cukup beragam, disesuaikan dengan status sosial ekonomi para pemiliknya. Tapi untuk rumah Bima yang lama semuanya menggunakan alang-alang yang dirajut tebal. Bagi yang kurang mampu, beratap ilalang. Bagi yang tergolong mampu, memakai atap Sante(sejenis sire dari bambu), Genteng, seng, dan khusus Istana Bima beratap Sire yang dibuat dari potongan kayu besi yang sudah dibelah-belah.

Sudah menjadi ketentuan adat, bahwa setiap rumah tradisional Bima memiliki Sancaka (Serambi atau Beranda) yang terdiri dari: Sancaka Tando (Serambi Depan) untuk para tamu dan tempat istirahat Ayah beserta anak laki-lakinya. Sancaka Riha (Dapur), berfungsi sebagai dapur dan tempat menyimpan barang pecah belah. Sancaka Wela (Serambi Samping), berfungsi sebagai tempat istirahat para anggota keluarga.

Khusus rumah keluarga besar Istana atau golongan bangsawan, di serambi depan  dibuat satu bangunan yang bernama “Sampana “ berperan sebagai tangga dan disamping kiri kanannya  berfungsi untuk tempat duduk. Ciri khas lain yang membedakan rumah rakyat dengan rumah keluarga bangsawan yaitu jumlah jenjang atap bagian depan dan belakang (Sarinci Uma). Kalau jenjang atau Sarinci terdiri dari tiga tingkat berarti pemilik rumah adalah bangsawan tinggi. Kalau dua tingkat berarti rumah bangsawan menengah. Kalau tutupan Sarincinya hanya satu, berarti rumah rakyat biasa. (Alan Malingi)

Sumber: Seni Rupa Mbojo (Seni Rupa Dan Seni Arsitektur: M. Hilir Ismail dkk)



Follow Twitter @Info_Mbojo & Facebook Info Mbojo My Great Web page
Share this article :

0 Komentar:

Poskan Komentar

Santabe, ta komentar mena, bune kombi menurut ndai kaso ta re

 
Support : Forum Dou Mbojo | Tofi Foto | Info Mbojo
Copyright © 2007. Mbojo Network, Berita dan Informasi Bima Dana Mbojo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Dominion Rockettheme
Proudly powered by Blogger